site

Pages

Jumat, 20 Mei 2011

Jenis Pekerjaan yang beresiko pada kesehatan paru-paru


Setiap pekerjaan memiliki risiko tersendiri termasuk dalam hal kesehatan paru-paru. Tapi ada 10 pekerjaan yang bisa berisiko dan membahayakan kesehatan paru-paru.

“Sebagian besar jenis penyakit paru-paru akibat pekerjaan bisa dicegah, langkah-langkah sederhana dalam pengendalian bisa mengurangi paparan dan juga risiko,” ujar Philip Harber, MD, profesor dan kepala UCLA Occupational and Environmental Medicine Division, seperti dikutip dari Health, Jumat (21/1/2011).
Berikut ini 10 bidang pekerjaan yang dapat berisiko bagi kesehatan paru-paru seseorang yaitu:

1. Konstruksi
Pekerja bisa menghirup debu dari kegiatan pembongkaran atau renovasi yang berisiko terkena kanker paru-paru, mesothelioma dan asbestos, yaitu suatu penyakit yang menyebabkan jaringan parut dan kaku di paru-paru. Untuk itu diperlukan pakaian pelindung termasuk respirator (masker khusus) saat bekerja di sekitar bangunan dan menghindari rokok.

2. Manufaktur
Pekerja pabrik bisa terkena debu, bahan kimia dan juga gas yang dapat meningkatkan risiko PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Bahan kimia tertentu seperti perasa diacetyl yang digunakan dalam microwave popcorn, pabrik anggur dan makanan bisa menyebabkan penyakit yang merusak yaitu bronchiolitis obliterans. Langkah sederhana seperti memakai masker saat menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya bisa mengurangi risiko.

3. Petugas kesehatan
Diperkirakan sekitar 8-12 persen petugas kesehatan sangat sensitif dengan bubuk yang ada pada sarung tangan lateks, sehingga bisa menyebabkan reaksi asma berat atau memicu timbulnya alergi.

4. Tekstil
Byssinosis atau dikenal dengan nama penyakit paru-paru coklat adalah kondisi yang umum diantara pekerja tekstil yang membuat jok, handuk, kaus kaki, seprai dan pakaian. Ketika kapas dipisahkan akan menciptakan sejumlah debu yang menyebabkan kerusakan aliran udara yang signifikan, partikel ini juga ada dari bahan lain. Untuk menguranginya gunakan masker, meningkatkan ventilasi udara dan menghindari rokok.

5. Bartender
Melayani minuman di sebuah ruangan yang penuh asap rokok menempatkan bartender berisiko tinggi terhadap penyakit paru-paru, terutama jika secara teratur terpapar dan menjadi perokok pasif bertahun-tahun.

6. Pekerja pabrik roti
Pekerjaan ini bisa memicu asma karena berisiko terkena debu tepung yang sangat signifikan mengembangkan sensitisasi alergi. Hal umum lainnya adalah reaksi asma untuk enzim yang digunakan dalam mengubah adonan, serta alergen lain yang sering ditemukan pada tepung.

7. Industri otomotif
Pekerja otomotif khususnya bagian yang memperbaiki body mobil sangat berisiko mengalami asma. Hal ini karena produk cat semprot seperti isocyanate dan polyurethane bisa menimbulkan iritasi kulit, alergi, sesak napas dan menyebabkan kesulitan bernapas yang parah. Penggunaan respirator, sarung tangan, kacamata dan ventilasi yang baik dapat sangat membantu.

8. Pekerja transportasi
Supir truk, angkutan umum dan orang-orang yang bertugas di bagian bongkar muat berisiko terkena PPOK. Kondisi ini akibat seringnya terkena polusi udara dari kendaraan bermotor terutama knalpot diesel.

9. Pertambangan
Para penambang berisiko tinggi terhadap sejumlah penyakit paru-paru seperti PPOK (akibat paparan debu) dan juga silicosis (penyakit bekas luka di paru-paru akibat airbone silica). Sedangkan penambang batu bara berisiko terkena penyakit paru yang disebut pneumokoniosis (paru-paru hitam). Penyakit ini merupakan investasi jangka panjang, karenanya penggunaan masker yang bisa menyaring debu dengan baik bisa membantu.

10. Petugas pemadam kebakaran
Petugas pemadam kebakaran berisiko menghirup asap dan berbagai bahan kimia yang mungkin ada di dalam gedung yang terbakar. Paparan bahan beracun dan asbes adalah risiko yang sering terjadi setelah api padam. Untuk itu alat pelindung pernapasan harus selalu digunakan pada semua tahap pemadaman kebarakan, termasuk saat petugas menyisir puing-puing untuk memastikan api tidak menyala lagi.

5 Macam Penyakit Pernafasan Akibat Pencemaran Partikel Debu di Udara


Pencemaran udara oleh partikel dapat disebabkan karena peristiwa alamiah dan dapat pula disebabkan karena ulah manusia, lewat kegiatan industri dan teknologi. Partikel yang mencemari udara banyak macam dan jenisnya, tergantung pada macam dan jenis kegiatan industri dan teknologi yang ada. Mengenai macam dan jenis partikel pencemar udara serta sumber pencemarannya telah banyak

Secara umum partikel yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Partikel-partikel tersebut sangat merugikan kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atau pneumoconiosis.

Pada saat orang menarik nafas, udara yang mengandung partikel akan terhirup ke dalam paru-paru. Ukuran partikel (debu) yang masuk ke dalam paru-paru akan menentukan letak penempelan atau pengendapan partikel tersebut. Partikel yang berukuran kurang dari 5 mikron akan tertahan di saluran nafas bagian atas, sedangkan partikel berukuran 3 sampai 5 mikron akan tertahan pada saluran pernapasan bagian tengah. Partikel yang berukuran lebih kecil, 1 sampai 3 mikron, akan masuk ke dalam kantung udara paru-paru, menempel pada alveoli. Partikel yang lebih kecil lagi, kurang dari 1 mikron, akan ikut keluar saat nafas dihembuskan.

Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap di dalam paru-paru. Penyakit pnemokoniosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel (debu) yang masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis yang banyak dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi, yaitu Silikosis, Asbestosis, Bisinosis, Antrakosis dan Beriliosis.

1. Penyakit Silikosis

Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dll). Selain dari itu, debu silika juka banyak terdapat di tempat di tempat penampang bijih besi, timah putih dan tambang batubara. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkan debu silika bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan terdispersi ke udara bersama – sama dengan partikel lainnya, seperti debu alumina, oksida besi dan karbon dalam bentuk abu.

Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit silicosis akan segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk-batuk. Batuk ii seringkali tidak disertai dengan dahak. Pada silicosis tingkah sedang, gejala sesak nafas yang disertai terlihat dan pada pemeriksaan fototoraks kelainan paru-parunya mudah sekali diamati. Bila penyakit silicosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin parah dan kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah kanan yang akan mengakibatkan kegagalan kerja jantung.

Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ketat sebab penyakit silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan preventif lebih penting dan berarti dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. Penyakit silicosis akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma broonchiale dan penyakit saluran pernapasan lainnya.

Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja. Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu – waktu diperlukan.

2. Penyakit Asbestosis

Penyakit Asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran dari berbagai macam silikat, namun yang paling utama adalah Magnesium silikat. Debu asbes banyak dijumpai pada pabrik dan industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik beratap asbes dan lain sebagainya.

Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan mengakibatkan gejala sesak napas dan batuk-batuk yang disertai dengan dahak. Ujung-ujung jari penderitanya akan tampak membesar / melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan pada dahak maka akan tampak adanya debu asbes dalam dahak tersebut. Pemakaian asbes untuk berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan kesadaran akan keselamatan dan kesehatan lingkungan agar jangan sampai mengakibatkan asbestosis ini.

3. Penyakit Bisinosis

Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang menggunakan kapas atau tekstil; seperti tempat pembuatan kasur, pembuatan jok kursi dan lain sebagainya.

Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema.

4. Penyakit Antrakosis

Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti pengumpa batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan juga pada kapal laut bertenaga batubara, serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara.

Masa inkubasi penyakit ini antara 2 – 4 tahun. Seperti halnya penyakit silicosis dan juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya, penyakit antrakosis juga ditandai dengan adanya rasa sesak napas. Karena pada debu batubara terkadang juga terdapat debu silikat maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan penyakit silicosis. Bila hal ini terjadi maka penyakitnya disebut silikoantrakosis. Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu penyakit antrakosis murni, penyakit silikoantraksosis dan penyakit tuberkolosilikoantrakosis.

Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. Penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi berat, dan relatif tidak begitu berbahaya. Penyakit antrakosis menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau emphysema yang memungkinkan terjadinya kematian. Kalau terjadi emphysema maka antrakosis murni lebih berat daripada silikoantraksosis yang relatif jarang diikuti oleh emphysema. Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantraksosi sulit dibedakan, kecuali dari sumber penyebabnya. Sedangkan paenyakit tuberkolosilikoantrakosis lebih mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis lainnya. Perbedaan ini mudah dilihat dari fototorak yang menunjukkan kelainan pada paru-paru akibat adanya debu batubara dan debu silikat, serta juga adanya baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru.

5. Penyakit Beriliosis

Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa logam murni, oksida, sulfat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang disebut beriliosis. Debu logam tersebut dapat menyebabkan nasoparingtis, bronchitis dan pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam, batuk kering dan sesak napas. Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja industri yang menggunakan logam campuran berilium, tembaga, pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik pembuatan tabung radio dan juga pada pekerja pengolahan bahan penunjang industri nuklir.

Selain dari itu, pekerja-pekerja yang banyak menggunakan seng (dalam bentuk silikat) dan juga mangan, dapat juga menyebabkan penyakit beriliosis yang tertunda atau delayed berryliosis yang disebut juga dengan beriliosis kronis. Efek tertunda ini bisa berselang 5 tahun setelah berhenti menghirup udara yang tercemar oleh debu logam tersebut. Jadi lima tahun setelah pekerja tersebut tidak lagi berada di lingkungan yang mengandung debu logam tersebut, penyakit beriliosis mungkin saja timbul. Penyakit ini ditandai dengan gejala mudah lelah, berat badan yang menurun dan sesak napas. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja-pekerja yang terlibat dengan pekerja yang menggunakan logam tersebut perlu dilaksanakan terus – menerus.

edited from: teknologi kesehatan masyarakat

Rabu, 30 Maret 2011

Tinggal di Kamar Sempit Lebih Rentan Kena ISPA


Dalam cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) makin mudah menjangkiti siapun. Risikonya makin tinggi jika tinggal di kamar yang terlalu sempit, apalagi berdesak-desakan dengan penghuni yang lain.

"Bangunan sempit menyebabkan kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh penghuninya menurun," ungkap pakar imunologi DR Dr Cleopas Martin Rumende, SpPD, K-P, FINASIM dalam simposium sehari di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Rabu (30/3/2011).

Ketika daya tahan menurun, berbagai jenis kuman yang beterbangan di udara akan lebih mudah menginfeksi saluran napas. Kuman penyebab ISPA bermacam-macam, di antaranya adalah bakteri pneumococcus penyebab pneumonia, berbagai macam jamur serta virus influenza.

Pada anak-anak, bakteri pneumococcus merupakan pemicu ISPA paling banyak yakni 50 persen. Sisanya dipicu oleh mikroorganisme lain seperti jamur dan bakteri lain yakni sebanyak 30 persen, serta virus Haemophillus Influenza tipe B sebanyak 20 persen.

ISPA didefinisikan sebagai infeksi yang dipicu oleh berbagai jenis kuman atau mikroorganisme dan terjadi di sepanjang saluran pernapasan. Kriteria lain untuk bisa disebut ISPA adalah, infeksi terjadi dalam durasi singkat yakni tidak lebih dari 14 hari.

Berdasarkan lokasi infeksinya, ISPA dibagi menjadi 2 salah satunya adalah ISPA di saluran pernapasan bagian atas. Jenis dalam kategori ini cukup sering terjadi, di antaranya sebagai berikut:


Rhinitis (radang di bagian hidung)
Sinusitis (radang sinus)
Otitis media (radang telinga bagian tengah)
Faringitis (radang di percabangan tenggorokan dengan kerongkongan)

Sementara itu ISPA yang menyerang saluran pernapasan bagian bawah contohnya sebagai berikut:


Epiglotitis
Laringitis
Laringotrakeitis
Bronkitis
Bronkiolitis
Pneumonia.

Selain dengan menjaga kebersihan, ISPA bisa dicegah dengan pemberian vaksinasi dan imunisasi. Selain itu, dalam musim pancaroba dengan cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, penggunaan masker dianjurkan untuk mencegah penularan ISPA melalui udara (air borne transmission).

Minggu, 27 Maret 2011

TBC MASALAH KESEHATAN DUNIA


Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TB. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis ini pun tinggi. Tahun 2009, 1,7 juta orang meninggal karena TB (600.000 diantaranya perempuan) sementara ada 9,4 juta kasus baru TB (3,3 juta diantaranya perempuan). Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55 tahun).
Demikian penjelasan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama pada acara temu media di kantor Kemkes, 18 Februari. Acara ini dilakukan sebagai rangkaian Hari TB Sedunia (HTBS) yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. Tema Global HTBS adalah On the Move Against Tuberculosis, Transforming the Fight Towards Elimination. Sementara tema Nasional HTBS adalah Terobosan Melawan Tuberkulosis menuju Indonesia Bebas TB.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, sedikitnya ada 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (6 – 8 bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Selain itu, masalah TB diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant=kebal terhadap bermacam obat). Masalah lain adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul.

Penyakit TB juga berkaitan dengan economic lost yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga
Menurut WHO, seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun.

“Dari sini dapat dihitung kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh TB. TB sangat erat dengan program pengentasan kemiskinan. Orang yang miskin akan menyebabkan kekurangan gizi dan penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan tertular dan sakit TB, begitu sebaliknya orang terkena TB akan mengurangi pendapatannya,” ujar Prof. Tjandra.

Dunia telah menempatkan TB sebagai salah satu indikator keberhasilan pencapaian MDGs. Secara umum ada 4 indikator yang diukur, yaitu Prevalensi, Mortalitas, Penemuan kasus dan Keberhasilan pengobatan. Dari ke-4 indikator tersebut 3 indikator sudah dicapai oleh Indonesia, angka kematian yang harus turun separuhnya pada tahun 2015 dibandingkan dengan data dasar (baseline data) tahun 1990, dari 92/100.000 penduduk menjadi 46/100.000 penduduk. Indonesia telah mencapai angka 39/100.000 penduduk pada tahun 2009. Angka Penemuan kasus (case detection rate) kasus TB BTA positif mencapai lebih 70%. Indonesia telah mencapai angka 73,1% pada tahun 2009 dan mencapai 77,3% pada tahun 2010. Angka ini akan terus ditingkatkan agar mencapai 90% pada tahun 2015 sesuai target RJPMN. Angka keberhasilan pengobatan (success rate) telah mencapai lebih dari 85%, yaitu 91% pada tahun 2009.

Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009, pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat 5 dunia penderita TB terbanyak setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini turun dibandingkan tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, Program TB Nasional telah mencapai target dunia sejak tahun 2005 dengan penemuan kasus TB BTA (Basil Tahan Asam) positif sekitar 70% dan mencapai keberhasilan pengobatan lebih dari 85% bahkan sejak tahun 2000. Penemuan dengan lebih dari 70% dan keberhasilan pengobatan >85% secara berurut lebih dari 5 tahun akan menurunkan prevalensi dan penurunan insidens.

Strategi nasional pengendalian TB telah sejalan dengan petunjuk internasional (WHO DOTS dan strategi baru Stop TB), serta konsisten dengan Rencana Global Penanggulangan TB yang diarahkan untuk mencapai Target Global TB 2005 dan Tujuan Pembangunan Milenium 2015.

Strategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB (DOTS = Directly Observed Treatment Shortcourse) terdiri dari 5 komponen yaitu komitmen pemerintah untuk mempertahankan control terhadap TB; deteksi kasus TB di antara orang-orang yang memiliki gejala-gejala melalui pemeriksaan dahak; pengobatan teratur selama 6-8 bulan yang diawasi; persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus; dan sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan pengobatan dan program.

Selain itu, rencana global penanggulangan TB didukung oleh 6 komponen dari Strategi Penanggulangan TB baru yang dikembangkan WHO, yaitu mengejar peningkatan dan perluasan DOTS yang berkualitas tinggi, menangani kasus ko-infeksi TB-HIV, kekebalan ganda terhadap obat anti TB dan tantangan lainnya, berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan, menyamakan persepsi semua penyedia pelayanan, memberdayakan pasien TB dan masyarakat serta mewujudkan dan mempromosikan penelitian

DOTS sangat penting untuk penanggulangan TB selama lebih dari satu dekade, dan tetap menjadi komponen utama dalam strategi penanggulangan TB yang terus diperluas, termasuk pengelolaan kasus kekebalan obat anti TB, TB terkait HIV, penguatan sistem kesehatan, keterlibatan seluruh penyedia layanan kesehatan dan masyarakat, serta promosi penelitian.

Pada peringatan HTBS 2011 dilaksanakan beberapa acara diantaranya Kongres Nasional TB tanggal 25-26 Maret 2011, Pameran Kesehatan dan Bazar Kelompok Masyarakat Peduli TB, dan Senam Akbar di Monas tanggal 27 Maret 2011. Sementara Acara Puncak Peringatan HTBS, tanggal 24 Maret 2011 diselenggarakan di Istana Wakil Presiden.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id.

Jumat, 11 Maret 2011

Selayang Pandang Mengenai Rumah Sakit Respira Jogja


Selamat pagi, Sugeng enjang masyarakat Yogya dan sekitarnya, ada kabar gembira bahwa sekarang telah resmi dibuka rumah sakit khusus paru pertama di Yogyakarta yaitu Rumah Sakit paru "RESPIRA”.
Dilihat dari namanya 'RESPIRA" berasal dari kata respiratory yang berarti pernapasan, jadi rumah sakit ini memang di khususkan untuk menjadi rujukan dalam penanganan penyakit paru dan pernapasan spesialistik dan komprehensif.
Rumah Sakit Paru Respira bukanlah layanan kesehatan paru yang baru bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, tetapi rumah sakit ini merupakan perkembangan dari Balai Pengobatan penyakit paru-paru (BP4) Unit Bantul Yogyakarta, yang lebih dikenal dengan sebutan Samalo palbapang. Rumah sakit ini berlokasi di Jl. Panembahan senopati palbapang No.4 Bantul, sekitar 12 km arah Selatan Kota Yogyakarta.
Sejarah BP4 Yogyakarta
Awal berdirinya tahun 1950, BP4 Yogyakarta bernama Lembaga Pemberantasan Penyakit Paru-Paru (LP4) Kementerian Kesehatan Rl, yang mempunyai tugas dan kewenangan mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemberantasan penyakit paru-paru. Kemudian mengalami beberapa kali reorganisasi. Tahun 1978 melalui Keputusan Menteri Kesehatan Rl Nomor : 144/Men.Kes/lV/78 tanggal 28 April 1978, LP4 berubah menjadi Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru yang berada dibawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan Rl.
Pada saat otonomi daerah tahun 2002 kepemilikan BP4 Yogyakarta dilimpahkan dari Departemen Kesehatan Rl kepada Pemerintah Propinsi DIY sebagai UPT Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Provinsi DIY melalui Perda No. 7 Tahun 2002. Uraian tugas dan tata kerja BP4 dituangkan dalam Keputusan Gubernur No. 160 Tahun 2002, dimana BP4 mempunyai fungsi membantu pemerintah dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penyakit paru.
Pada tahun 2004 berdasarkan Keputusan Gubernur DlY Nomor : 114 Tahun 2004 BP4 Yogyakarta merupakan UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Kesehatan Propinsi DIY dengan 5 unit pelayanan yang tersebar di lima lokasi di empat Kabupaten/Kota yaitu :
1. BP4 Yogyakarta (Kota) adalah unit rawat jalan dan pusat administrasi serta kepegawaian BP4 Yogyakarta.
2. Unit Kotagede (Kota) terdiri dari unit rawat jalan dan rawatinapdengan 20 TT.
3. Unit Kalasan (Sleman) terdiri dari unit rawat jalan dan unit rawat inap dengan 15 TT.
4. Unit BANTUL CIKALBAKALRUMAH SAKITPARU RESPIRA.
5. Unit Wates (Kulonprogo)adalah rawat jalan.
Bila dilihat dari Pedoman Pelayanan Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan maka sebuah balai pengobatan hanya melaksanakan pelayanan kesehatan dasar rawat jalan. Padahal sejak berdirinya Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Yogyakarta mempunyai 2 rawat inap dengan kapasitas 35 TT(Kotagede 20 TTdan Kalasan 15 TT).
Embrio Rumah Sakit Paru RESPIRA
Dalam rangka menjawab dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan paru yang semakin kompleks maka muncullah gagasan besar lahirnya Rumah sakit paru pertama di Yogyakarta. Beberapa tahapan telah diproses untuk menggodog embrio rumah sakit ini, mulai dari pembentukan tim perumus, penyusunan grand design, studi kelayakan pengembangan BP4 Yogyakarta oleh konsultan eksternal, sosialisasi dan advokasi dengan pejabat yang berwenang serta penyiapan sumber daya rumah sakit.
Dari hasil pembahasan dan studi kelayakan tahun 2007 maka 1 unit sedang dipersiapkan untuk menjadi Rumah Sakit Khusus Paru yang nantinya dapat menanggulangi secara aktif masalah kesehatan paru dan pernapasan diwilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Pasca gempa yang melanda Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 maka pada tahun 2007 Japanesse Red Cross Society (JRCS) Yogyakarta Earthquake Realief Recontruction Project memberikan bantuan berupa pembangunan gedung yang bedokasi di belakang gedung rawat jalan BP4 Unit Bantul. Gedung yang megah tersebut terdiri dari 3 lantai, dengan luas tanah 1856 m2, Land area 520,2 m2, building cover 383,1 m2, total bangunan 1149,5 m2. Yang akhirnya tanggal 10 Maret 2009, gedung tersebut diserahterimakan dari JRCS kepada Pemerintah Provinsi DlY.
Atas kerja keras dari semua pihak maka mulai bulan April 2009, Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Unit Bantul Yogyakarta telah difungsikan sebagai rawat inap embrio dari Rumah Sakit Paru Respira.
Serangkaian proses menjadi rumah sakit terus berjalan yang akhirnya diperkuat Surat Keputusan Dinas Kesehatan Provinsi DIY Nomor 44513677 N. tanggal 4 Mei 2010 sebagai ijin operasional Rumah Sakit Paru RESPIRA.
Dengan berkembangnya status BP4 Yogyakarta menjadi sebuah Rumah Sakit Khusus Paru maka pelayanan harus meningkat yaitu pelayanan spesialis paru dengan dilengkapi UGD siaga 24 jam dan didukung peralatan yang canggih.
Fasilitas Rumah Sakit Respira :
1. Pelayanan Rawat lnap yang terbagi atas kelas l, ll, lll serta ruang isolasi.
- Kelas l terdiri 6 TT(6kamar)
- Kelas ll terdiri 12 TT(6kamar)
- Kelas lll terdiri 16 TT(4kamar)
- Kelas isolasi terdiri 3 TT (3 kamar)
- Ruang ICU terdiri 2 TT(1 kamar)
2. Pembagian ruang infeksius dan ruang non infeksius.
3. Peralatan diagnosa paru yang lengkap ; USG, EKG, Bronkhoskopi, mantoux tes, WSD, rontgen paru, spirometri,
4. Laboratorium lengkap
5. Fisioterapi paru
6. Pelayanan konseling : konseling berhenti merokok, gizi, sanitasi dan konseling penderita penyakit paru.
Dengan berdirinya Rumah Sakit Paru Respira maka 4 unit BP4 Yogyakarta yang lain tetap beroperasi melayani penyakit paru dengan fasilitas yang memuaskan dan harga yang terjangkau. Rumah Sakit Paru Respira tetap menerima pasien dengan kartu Jamkesmas dan Jamkessos.
Semoga keberadaan Rumah Sakit Paru Respira dan BP4 Yogyakarta menjadi referensi masyarakat dalam penanganan penyakit paru di Yogyakarta dan sekitarnya. Dan semoga senantiasa memberikan pelayanan prima untuk bersama-sama menye hatkan masyarakat.
BRAVO RESPIRA'

*)Sumber : BULETIN RESPIRA EDISI III/2010/RESPIRA OLEH HENI FATMAWATI, SKM
(tanpa mengalami perubahan dari teks asli).

Jumat, 07 Januari 2011

Unit Pengolahan Limbah cair di Rumah Sakit Paru Respira Jogja

I.PENDAHULUAN :
Melalui KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1204/MENKES/SK/X/2004 TENTANG PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT, limbah cair rumah sakit perlu dilakukan pengiolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air dengan persyaratan kualitas outlet tertentu yang dipersyaratkan.
Masalah air limbah di Indonesia baik limbah domestic maupun air limbah industri Rumah sakit sampai saat ini masih menjadi masalah yang serius. dalam hal ini instansi pemerintah di pelayanan kesehatan kususnya Rumah Sakit Paru Respira Jogja mengupayakan pengolahan air limbah menggunakan teknologi secara biologis yakni memberdayakan aktifitas mikroorganisme untuk menguraikan senyawa polutan organic. proses biologis yang dikembangkan oleh instalasi IPAL Rumah Sakit Paru Respira Jogja adalah menggunakan biakan melekat, yakni proses pengolahan limbah dimana mikroorganisme yang digunakan dibiakan pada suatu media mikroorganisme tersebut melekat pada permukaan film media. sering juga proses ini disebut dengan proses film mikrobiologis atai BIOFILM. sedangkan system yang digunakan oleh Instalasi IPAL Rumah Sakit Paru Respira adalah FILTER ANAEROB AEROB.



II. PRINSIP KERJA BIAKAN MELEKAT/BIO FILM/BIO FILTER
Pada dasarnya prinsip kerjanya adalah sebagai berikut bahwa lapisan biofilm yang melekat pada media akan menguraikan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah misalnya BOD,COD, Amnonnia,phospor dan lainnya. pada saat bersamaan dengan menggunakan oksigen yang terlarut didalam air senyawa polutan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme menjadi biomasa. Dalam hal ini unit IPAL Rumah sakit Paru Respira Jogja mensuplai oksigen oleh blower dan dilewatkan melalui diffuser yang ada dibagian dasar air.

Gambar Pola Unit IPAL Rumah Sakit Paru Respira Jogja tampak samping




Gambar Pola Unit IPAL Rumah Sakit Paru Respira Jogja tampak atas



III. PENJELASAN TEKNIS MASING MASING RUANGAN
1. Ruang Anaerobic 1
sebagai gambaran bahwa pada ruangan ini ada suatu media tercelup yang biasa disebut biofilm/biofilter.



equipment :
- Media Anaerob : PVC + Polyuretane Foam
- Suport atas dan bawah : FRP net
- Weir/bufle : FRP
Fungsi serta manfaat ruangan Anaerobic 1 :
- Proses anaerobic dapat segera menggunakan CO2 yang ada sebagai penerima electron. proses tersebut tidak membutuhkan oksigen.
- Penguraian anaerobic menghasilkan lebih sedikit Lumpur (3-20 kali lebih sedikit dari pada aerobic), energi yang dihasilkan bakteri anaerobic relativ rendah. sebagian besar energi didapat dari pemecahan subtract yang ditemukan dalam hasil akhir, yaitu CH4 dibawah kondisi aerobic 50% dari karbon organicdirubah menjadi biomasa, sedangkan dalam proses anaerobic hanya 5% dari karbon organic yang dirubah biomasa. Dengan proses anaerobic satu metric ton COD tinggal 20 - 150 kg biomasa, sedangkan proses aerobik masih tersisa 400 - 600 kg biomasa (Speece, 1983; Switzenbaum, 1983)
- Proses anaerobic menghasilkan gas metan yangb mengandung sekitar 90% energi dengan nilai kalori 9.000 kkl/m3, gas metan ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik setelah melalui beberapa proses. sedikit energi terbuang menjadi panas (3-5%). Produksi metan menurunkan BOD dalam penguraian Lumpur limbah.
- Sistem anaerobic dapat membiodegradasi senyawa xenobiotik (seperti chlorinateds aliphatic hydrocarbons se[perti trichlorethylene, trihalomethans) dan senyawa alami recalcitrant lignin.

2. Ruangan Equalisasi
equalisasi ini berfungsi untuk menyetarakan debit aliran agar dalam proses mikrobiologis tidak terjadi fluktuasi aliran yang akan berakibat kurang optimalnya proses biologis oleh mikroorganisme.

3. Ruangan Anaerobic 2
Pada dasarnya fungsi serta manfaat ruangan ini hampir sama dengan ruangan anaerobic 1, yang membedakan hanyalah bahwa pada ruangan ini terjadi proses biologis yang lebih kompleks, yakni kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri terlibat dalam transformasi senyawa kompleks organic menjadi metan. lebih jauh lagi, terdapat interaksi sinergis antara bermacam macam kelompok bakteri yang berperan dalam penguraian limbah. Keseluruhan reaksi dapat digambarkan sebagai berikut (Polprasert, 1989):
senyawa organik -------. CH4/+CO2/+H2/+NH3/=H2S/
Meskipun beberapa jamur (Fungi) dan protozoa dapat ditemukan dalam penguraian anaerobic, bakteri tetap merupakan mikroorganisme yang paling dominan bekerja di dalam proses penguraian anaerobic. sejumlah besar bakteri anaerobic dan fakultatif (seperti : Bacteroides, Bifidobacterium, Clostridium, Lactobacillus, Streptocoocus)terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organic.

4. Ruang Bio Filtration
di dalam proses pengolahan air limbah organic akan terurai oleh aktifitas mikroorganisme aerobic, senyawa kompleks organik akan terurai oleh aktifitas mikroorganisme aerob. Mikroorganisme tersebut dalam aktifitasnya memerlukan oksigen atau udara untuk memecah senyawa otrganic yang kompleks menjadi CO2 dan air serta ammonium, selanjutnya ammonium akan diubah menjadi nitrat dan H2S akan dioksidasi menjadi sulfat.
Sementara itu teknologi yang dikembangkan oleh unit IPAL Rumah Sakit Paru Respira Jogja sebagai media biofiltration adalah menggunakan STYRENE FOAM SPHERICAL (diameter 3-4 mm), teknologi ini pertama kali dikembangkan di Prancis oleh perusahaan OTV kemudian diperkenalkan ke Jepang dan selanjutnya di inovasi oleh BESTECH.Co.LTD sebagai suatu teknologi pengolahan air limbah yang sangat baik karena kebutuhan listriknya sangat rendah.
>Prinsip kerja Bio Filtration<
Ruangan ini terisi oleh Styrene Foam dengan diameter 3-4 mm sebbanyak 60% dari total efektiv volume tangki. air limbah mengalir dari bawah ke atas (Down Up Flow) menembus kumpulan rapat styrene foam yang disuplai udara dari/melalui diffuser. selama air bersentuhan dengan permukaan media Styrene Foam terjadi proses biologis dimana proses tersebut bisa mengurangi kadar BOD dan SS (Suspended Solid)



>Keunggulan System Bio Filtration<
- Sistem filtrasinya mempunyai kapasitas untuk mengurangi kadar SS
- Auto Backwashnya bisa beroprasi lama karena menggunakan system pemampatan udara melalui blower, sehingga blocking terhadap media bisa diantisipasi
- Kebutuhan listriknya sangat rendah dibanding sistem lain.
- Efisiensi Penurunan BOD sangat baik.
- Kadar Ammonia yang diolah oleh Biofiltration sangat efisien.

5. Ruangan Backwash
Berfungsi untuk membantu melakukan pencucian media aerobic / Styrene foam dengan cara memberikan tekanan udara melalui blower sehingga air yang ada di ruangan ini akan keluar ke ruangan biofiltration, dan setelah ruangan backwash kosong atau udara tidak mampu untuk menekan air kembali, maka air akan kembali dengan tiba-tiba sehingga memcah koloni/kumpulan styrene Foam yangt mengakibatkan kotoran yang menempel pada styrene foam terbawa ke ruangan backwash dan diteruskan ke ruangan anaerobic 1.

6. Ruangan Treated Watyer (Air Hasil Olahan)
Berfungsi sebagai penampung/wadah air hasil olahan yang sudah memenuhi standar baku mutu dan ramah lingkungan.

7. Ruangan Desinfectan
Disebut juga BOX CHLORINE yang berisi Chlorine sebagai desinfectant untuk membantu membunuh bakteri patogen dari air hasil olahan sebelum dikeluarkan ke lingkungan.


berikut gambaran inspeksi pemeliharaan IPAL




Desinfeksi dan Sterilisasi Rumah Sakit

A. Pengertian
Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
31 / 50
1. Dekontaminasi adalah upaya mengurangi dan/atau menghilangkan kontaminasi oleh mikroorganisme pada orang, peralatan,
bahan, dan ruang melalui disinfeksi dan sterilisasi dengan cara fisik dan kimiawi.
2. Disinfeksi adalah upaya untuk mengurangi/menghilangkan jumlah mikroorganisme patogen penyebab penyakit (tidak termasuk
spora) dengan cara fisik dan kimiawi.
3. Sterilisasi adalah upaya untuk menghilangkan semua mikroorganisme dengan cara fisik dan kimiawi.

B. Persyaratan
1. Suhu pada disinfeksi secara fisik dengan air panas untuk peralatan sanitasi 80° C dalam waktu 45-60 detik, sedangkan untuk
peralatan memasak 80° C dalam waktu 1 menit.
2. Disinfektan harus memenuhi kriteria tidak merusak peralatan maupun orang, disinfektan mempunyai efek sebagai deterjen dan
efektif dalam waktu yang relatif singkat, tidak terpengaruh oleh kesadahan air atau keberadaan sabun dan protein yang mungkin
ada.
3. Penggunaan disinfektan harus mengikuti petunjuk pabrik.
4. Pada akhir proses disinfeksi terhadap ruang pelayanan medis (ruang operasi dan ruang isolasi) tingkat kepadatan kuman pada
lantai dan dnding 0-5 CFU/cm2, bebas mikroorganisme patogen dan gas gangren. Untuk ruang penunjang medis (ruang rawat
inap, ruang ICU/ICCU, kamar bayi, kamar bersalin, ruang perawatan luka bakar, dan laundry) sebesar 5-10 CFU/cm2.
5. Sterilisasi peralatan yang berkaitan dengan perawatan pasien secara fisik dengan pemanasan pada suhu ± 121° C selama 30 menit
atau pda suhu 134° C selam 13 menit dan harus mengacu pada petunjuk penggunaan alat sterilisasi yang digunakan.
6. Sterilisasi harus menggunakan disinfektan yang ramah lingkungan.
7. Petugas sterilisasi harus menggunakan alat pelindung diri dan menguasai prosedur sterilisasi yang aman.
8. Hasil akhir proses sterilisasi untuk ruang operasi dan ruang isolasi harus bebas dari mikroorganisme hidup.

C. Tata Laksana
1. Kamar/ruang operasi yang telah dipakai harus dilakukan disinfeksi dan disterilisasi sampai aman untuk dipakai pada operasi
berikutnya.
2. Instrumen dan bahan medis yang dilakukan sterilisasi harus melalui persiapan, meliputi :
a. Persiapan sterilisasi bahan dan alat sekali pakai.
Penataan – Pengemasan – Pelabelan – Sterilisasi
b. Persiapan sterilisasi instrumen baru :
Penataan dilengkapi dengan sarana pengikat (bila diperlukan) - Pelabelan – Sterilisasi
c. Persiapan sterilisasi instrumen dan bahan lama :
Disinfeksi – Pencucian (dekontaminasi) – Pengeringan (pelipatan bila perlu) - Penataan – Pelabelan – Sterilisasi
3. Indikasi kuat untuk tindakan disinfeksi/sterilisasi :
a. Semua peralatan medik atau peralatan perawatan pasien yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh, sistem vaskuler atau
melalui saluran darah harus selalu dalam keadaan steril sebelum digunakan.
b. Semua peralatan yang menyentuh selaput lendir seperti endoskopi, pipa endotracheal harus disterilkan/ didisinfeksi dahulu
sebelum digunakan.
c. Semua peralatan operasi setelah dibersihkan dari jaringan tubuh, darah atau sekresi harus selalu dalam keadaan steril
sebelum dipergunakan.
Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
32 / 50
4. Semua benda atau alat yang akan disterilkan/didisinfeksi harus terlebih dahulu dibersihkan secara seksama untuk menghilangkan
semua bahan organik (darah dan jaringan tubuh) dan sisa bahan linennya.
5. Sterilisasi (132° C selama 3 menit pada gravity displacement steam sterilizer) tidak dianjurkan untuk implant.
6. Setiap alat yang berubah kondisi fisiknya karena dibersihkan, disterilkan atau didisinfeksi tidak boleh dipergunakan lagi. Oleh
karena itu, hindari proses ulang yang dapat mengakibatkan keadan toxin atau mengganggu keamanan dan efektivitas pekerjaan.
7. Jangan menggunakan bahan seperti linen, dan lainnya yang tidak tahan terhadap sterilisasi, karena akan mengakibatkan
kerusakan seperti kemasannya rusak atau berlubang, bahannya mudah sobek, basah, dan sebagainya.
8. Penyimpanan peralatan yang telah disterilkan harus ditempatkan pada tempat (lemari) khusus setelah dikemas steril pada
ruangan :
a. Dengan suhu 18° C – 22° C dan kelembaban 35% - 75%, ventilasi menggunakan sistem tekanan positif dengan efisiensi
partikular antara 90%-95% (untuk partikular 0,5 mikron)
b. Dinding dan ruangan terbuat dari bahan yang halus, kuat, dan mudah dibersihkan.
c. Barang yang steril disimpan pada jarak 19 cm – 24 cm.
d. Lantai minimum 43 cm dari langit-langit dan 5 cm dari dinding serta diupayakan untuk menghindari terjadinya penempelan
debu kemasan.
9. Pemeliharaan dan cara penggunaan peralatan sterilisasi harus memperhatikan petunjuk dari pabriknya dan harus dikalibrasi
minimal 1 kali satu tahun.
10. Peralatan operasi yang telah steril jalur masuk ke ruangan harus terpisah dengan peralatan yang telah terpakai.
11. Sterilisasi dan disinfeksi terhadap ruang pelayanan medis dan peralatan medis dilakukan sesuai permintaan dari kesatuan kerja
pelayanan medis dan penunjang medis.

Kegiatan Desinfeksi dan sterilisasi ruang di Rumah sakit Paru Respira Jogjakarta menggunakan Lampu UV tipe X, hal ini didasarkan pada pasien di RSP Respira Jogja rata rata kasus pengidab TBC (tuberculosa), sehingga penggunaan sinar UV tipe X ini sangat efektiv dalam membunuh mikroba mikrobacterium tahan asam.



lampu UV tipe X terdiri dari 4 lampu dengan kekuatan masing masing 30 watt. lampu ini mempunyai kemampuan membunuh mikroba seperti bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain. untuk membunuh suatu spesies dibutuhkan intensitas sinar ultraviolet yang berbeda. seperti pada tabel berikut :



intensitas sinar ultra violet juga dipengaruhi oleh jarak jangkauannya.semakin jauh jarak suatu obyek dengan lampu ultraviolet maka intensitas sinar ultraviolet yang diterima pun semakin kecil. intensitas dan jarak lampu digambarkan dalam kurve berikut ini :



dari kurve tersebut dibaca kekuatan lampu UV pada jarak 90 cm adalah 180 nwatt/cm2. pada jarak 180 cm adalah 83 nwatt/cm2 dan pada jarak 270 cm adalah 40 nwatt/cm2.
sebelum melakukan desinfeksi ruangan dengan sinar ultraviolet perlu diperhitungkan adalah sebagai berikut :
luas ruangan yang akan disterilkan adalah : 7,5 m x 5,5 m persegi. lampu UV diletakkan di tengah-tengah ruangan yaitu pada posisi 3,75 m dan 2,75 m. kekuatan sinar UV sesuai kurva adalah kurang lebih 20 nwatt/cm2. jika bakteri yang akan dimatikan sampai pada Mycobacterium tuberculosis dimana bakteri tersebut akan mati dengan UV sebesar 250 nwatt menit/cm2 maka penyinaran yang harus dilakukan adalah :
250 nwattmenit/cm2 : 20 nwatt/cm2 = 12,5 menit -----> 15 menit